Dibeli Seharga Rp 1,7 Triliun, Ini 7 Fakta Dibalik Kecelakaan Lion Air JT 610!

lead image

Turut berduka bagi keluarga korban yang ditinggalkan

Kabar duka kembali menyelimuti tanah air, setelah bencana alam yang menimpa saudara kita di Donggala, Palu dan sekitarnya, kini pesawat terbang Lion Air jatuh setelah menghilang dari kontak, di menit ke-13 setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng.

Pesawat dengan rute ke Pangkal Pinang yang membawa sekitar 188 penumpang ini kabarnya terjatuh di laut utara wilayah Karawang, Jawa Barat.

Lion Air JT 610 lebih lanjut dikabarkan terjatuh setelah mengontak Air Traffic Controller Bandara Soetta setelah meminta izin untuk kembai ke Bandara, meskipun belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan kerusakan fatal pada pesawat tersebut.

Lion Air JT 610 merupakan pesawat baru dengan tipe Boeing MAX 8 yang dikabarkan baru saja beroperasi selama dua bulan, sejak Agustus 2018. Berikut faktanya!

Lion Air Jatuh & Fakta Dibalik Kecelakaan Kilatnya!

lion air

#1 Boeing 737 MAX 8 Seharga Rp 1,7 Triliun

Dikutip dari laman Wikipedia, pesawat ini dijual dengan harga USD 117,1 juta yang setara dengan Rp 1,7 triliun jika mengacu pada nilai tukar Rupiah saat ini.

Lion Air sendiri memiliki 10 jenis pesawat Boeing 737 MAX 8 di berbagai rute domestik.

#2 Sempat Hilang Kontak

Lion Air JT 610 yang memiliki rute JKT (CGK) - Pangkal Pinang ini setelah 13 menit lepas landas sempat menghilang dari kontak.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Kantor SAR Pangkal Pinang, Danang Priandoko, lebih lanjut ia menjelaskan JT 610 hilang kontak di kisaran perairan Kepulauan Seribu.

#3 Sempat Lapor Akan Kembali ke Bandara Soetta

Dikutip dari Kompas, Pilot Lion Air JT 610, Bhavye Suneja asal India sempat melapor untuk kembali ke Bandara Soetta. Namun pesawat tak kunjung tiba di Bandara Soetta dan hilang kontak.

#4 Pilot Memiliki 6,000 Jam Terbang dan Ahlinya Boeing 737

Bhavye Suneja, pilot muda asal India ini bukannya anak baru di dunia kemudi pesawat. Ia telah mengantongi 6,000 jam kerja dan mengawali karirnya sebagai pilot di maskapai Emirates.

Ia bergabung dengan Lion Air sejak tahun 2011 dan memang 'ditarik' secara khusus karena memiliki keahlian mengendalikan jenis pesawat Boeing 737.

Lion Air juga mengungkapkan pernah memiliki kesepakatan untuk menempatkannya di New Delhi setelah satu tahun, kesepakat tersebut dibuat pada tahun 2018 ini.

#5 Pesawat ke-9 yang Terjatuh di Perairan

Lion Air JT 610 merupakan pesawat ke-9 yang mengalami kecelakaan dan terjatuh di perairan sejak tahun 1955. Dari ke-9 pesawat tersebut yang jatuh paling dalam yaitu di palung laut Majene.

Pertama ada pesawat Khashmir Princess yang meledak di perairan Natuna pada tahun 1955. Lalu ada Merpati Nusantara Airlines yang terjatuh di garis pantai di Padang pada tahun 1971 karena cuaca buruk, kemudian ada Silk Air yang jatuh di Sungai Musi pada tahun 1997, Garuda Indonesia juga pernah mengalami kecelakaan di Bengawan Solo pada tahun 2002 meskipun masih banyak yang selamat dari kecelakaan ini. Di tahun 2007, Adam Air mengalami kecelakaan di perairan Majene di kedalaman 2,000 meter. Pada tahun 2011, Merpati jatuh di Laut Kaimana, Papua hanya 500 meter dari Bandara Ultarom, Kaimana, Papua. Kemudian pada tahun 2013 Lion Air jatuh di pantai Segara Bali karena gagal mendarat, hanya saja semua penumpang berikut awak pesawat berhasil selamat. Di tahun 2015 sebelum kejadian JT 610 ini, Air Asia juga terjatuh di selat Karimata, dekat Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

#6 Bukan Insiden Boeing 737 MAX 8 yang Pertama

Kecelakaan pesawat yang dialami oleh Lion Air JT 610 merupakan insiden besar pertama dari pesawat jenis Boeing 737 MAX 8. Namun, bukan merupakan insiden pertama.

Sebelumnya beberapa insiden minor terjadi juga di jenis pesawat yang sama. Bulan Juli lalu, pesawat MAX 8 telah mengalami bird strike dalam rute Chennai ke Mumbai. Meskipun burung-burung itu menabrak mesin pesawat di udara, pesawat masih bisa berhasill mendarat dengan selamat.

Sebelumnya hanya selang beberapa hari dari insiden JT 610, sebuah truk bahan bakar menabrak sayap pesawat Boeing 737 MAX 8 di New York. Namun tak ada yang terluka dalam kejadian tersebut.

#7 Selain Lion, Maskapai Penerbangan Ini Juga Membeli MAX 8

Pembeli pertama pesawat MAX 8 memang merupakan anak perusahaan Lion Air Group yaitu Malindo Air yang beroperasi di Malaysia.

Lion Air sendiri sudah memiliki 10 jenis pesawat ini, dan total yang dimiliki Lion Group ada sekitar 218 unit. Selain Lion Air, maskapai penerbangan internasional lainnya seperti Southwest Airlines di Amerika Serikat, Norwegia Air Shuttle di Norwegia, Virgin Australia di Australia dan United Airlines di Amerika Serikat juga membei pesawat MAX 8 untuk maskapai penerbangannya masing-masing.

Itulah fakta-fakta dibalik Lion Air jatuh untuk yang kesekian kalinya, mari kita bersama mendoakan agar proses pencarian korban berlangsung dengan lancar tanpa kendala yang berarti dan semoga keluarga korban juga diberikan kekuatan dari kehilangan orang-orang yang dicintainya.

Baca juga:

Bos Mayapada Kirim Fast Food Pakai Jet Pribadi untuk Korban Gempa Palu

Korban Hingga 1,347 Jiwa, Kerugian Gempa di Palu Mencapai Rp 10 Triliun!

Suka dengan artikel ini? Jangan lupa like Facebook dan follow Instagram Asian Money Guide Indonesia agar tak ketinggalan artikel keuangan terbaik kami!

Written by

Tiara Iraqhia