Menemukan kebebasan finansial: Bagaimana saya awalnya dihidupi dari uang Ayah saya hingga akhirnya mampu membayar cicilan rumah sendiri

Sarina Pathela, yang memiliki latar belakang di bidang riset dan pengembangan farmasi telah menghabiskan seluruh waktu hidupnya lepas dari kecemasan keuangan atau tergantung dari pencatatan pengeluarannya. Di sini ia akan berbagi bagaimana akhirnya ia mencapai kebebasan finansial.

Sebelum menikah, aku menggesek kartu kredit Ayahku seperti sudah bawaan lahir. Mulai dari gila belanja di Zara atau bayar tagihan restoran saat nongkrong di bar (dulu ketika saya biasa minum), kapanpun aku harus membayar sesuatu, tanpa pikir dua kali, saya akan beralih pada kartu kredit Ayahku.  

Saat menerima tagihan kartu kreditnya di akhir bulan, Ayahku akan mulai berceramah tentang gimana aku semestinya memperbaiki kebiasaan menghamburkan uang dan mengaturnya dengan lebih bijak. Tentu saja aku merasa bersalah setelah mendengar wejangan ini, tapi tetap saja kebiasaan belanjaku tidak juga membaik.  

Namun saat ini, rasanya aku sudah bisa memahami gimana rasanya berada di posisi Ayahku, dan merasa kalau uang yang dengan susah payah kita dapatkan ini harus dibelanjakan secara bijak.

The wake-up call alias panggilan pengingat

Konsekuensi dari ketidakmampuanku untuk menelusuri pengeluaran pada akhirnya mencapai puncaknya setelah aku menikah; hal ini betul-betul membuatku shock.

Awalnya semua seperti bukit berbunga dan kupu-kupu hingga akhirnya tagihan tiba. Kehidupan pernikahanku sesungguhnya sangat luar biasa dan terkadang aku semuanya bagaikan mimpi, namun tumpukan tagihan itu pada akhirnya membawaku kembali ke bumi. Akhirnya, aku menyadari kalau setiap nasihat yang diberikan oleh Ayah itu sebetulnya sangat benar adanya. Aku pun menyesal dulu tidak mendengarkannya dengan sungguh-sungguh!

Namun setelah melalui langkah di bawah ini, akupun akhirnya berubah.

1. Aku terus mencatat pengeluaranku

Sebetulnya aku bukanlah tipe perempuan yang dengan tekun mencatat semua pengeluaran pribadiku, apalagi kalau sekedar hirau untuk memperhatikan saldo tabungan, tapi setelah tinggal terpisah dari orang tua, aku mulai mencatat semua pengeluaran, belanja bulanan, pengeluaran travel, serta jenis pengeluaran rutin lainnya. Mengetahui semua ini akan membantuku memperhitungkan secara pasti besaran uang yang mesti kutabung.  

2. Aku punya tujuan finansial yang lebih besar

Saat ini, aktivitas menabung buatku bukan lagi sekedar untuk liburan ke Inggris. Sekarang aku mulai fokus menabung untuk kebutuhan sang buah hati: untuk anak, rumah baru, dan seterusnya.  

3. Berpikir dua kali sebelum menggesek kartu

Aku belum berhenti menggesek kartu secara mendadak. Aku masih memanjakan diri dengan aktivitas belanja dan makan di restoran, tapi sudah saatnya betul-betul mulai berpikir dua kali sebelum menghabiskan uang di atas Rp 1 juta dengan sekedip mata. Aku biasanya akan mulai bertanya pada diri sendiri, “Apakah aku betul-betul memerlukan ini?” Sebetulnya jawabannya lebih sering tidak dibandingkan iya.

Awalnya aku mulai coba mengembangkan alasan-alasan rasional terkait kenapa aku membutuhkan suatu barang, namun sekarang rasanya sudah seperti kebiasaan untuk tidak belanja terlalu royal. Percaya sama aku, ini bisa menjadi prestasi luar biasa yang bisa Anda capai dan, pastinya, tabunganku tak pernah tampak lebih sehat seperti saat ini.

Menemukan kebebasan finansial: Bagaimana saya awalnya dihidupi dari uang Ayah saya hingga akhirnya mampu membayar cicilan rumah sendiri