Perempuan di Industri Teknologi: 5 Hal Sangat Mengganggu yang Harus Dihadapi Setiap Perempuan di Industri Teknologi

Mengapa hanya ada sedikit sekali perempuan di industry teknologi? Satu pendiri perusahaan tech membagi pikirannya.

Fakta: keberagaman gender dalam kepemimpinan terbukti meningkatkan keuntungan, membuat perusahaan memiliki performa yang lebih baik, dan lebih kritis terhadap inovasi. Laporan McKinsey Global Institute tahun 2015 menemukan sebanyak $12 triliun dapat ditambahkan ke dalam GDP global pada tahun jika kita mengedepankan kesetaraan perempuan.

Di dalam industri teknologi, ketangkasan dan kesiapan untuk mengadopsi praktik-praktik baru guna mendorong pertumbuhan dan inovasi seharusnya menjadi norma. Jadi, sesunggunya sangat ironis jika dunia teknologi malah didominasi oleh laki-laki yang umumnya kurang ramah pada perempuan.

Berikut adalah daftar panjang—yang masih terus bertambah—mengenai daftar hal-hal yang dihadapi perempuan yang ingin masuk ke dalam dunia industri dengan penuh perjuangan:

1. Tempat kerja bisa jadi tempat yang sangat sepi, dan kita sesungguhnya merasakan hal ini

Saat bicara mengenai mendapatkan sekutu dan dukungan teman sebaya di tempat kerja, keberuntungan tak memihak pada kita. Dari 10 karyawan di tech companies, bahkan sekelas Google dan Facebook, hanya ada 3 pekerja perempuan. Bagaimana dengan tech startups yang dimiliki oleh perempuan?  Hanya 17%.

Pemimpin laki-laki cenderung hanya menjadi mentor bagi laki-laki lainnya dan sulit untuk bisa mengidentifikasi role model serta mentor perempuan. Jika perempuan merasa tidak didukung untuk berkembang, masuk akal jika mereka cenderung keluar dari tempat kerja, workforce, dan hanya akan memperparah situasi.

2. Seksisme dan pelecahan seksual sungguh-sungguh terjadi.

Sebagai seorang tech entrepreneur dan perempuan, Saya telah mengalami langsung seksisme dan pelecehan yang dihadapi perempuan, berulang kali. Sungguh menurunkan semangat jika Anda diundang untuk bicara dalam event dan konferensi—yang sudah cukup mengerikan—hanya untuk mendapatkan komentar di depan wajahmu jika undangan  yang saya terima dimaksudkan sekedar “memenuhi unsur keberagaman.” Hal semacam ini betul-betul melecehkan capaian-capaian dan kapabilitas kita.

3. Perempuan dinilai berdasarkan performa, sementara laki-laki berdasarkan potensi mereka.

Pernah merasa kalau Anda harus bekerja ekstra keras dibandingkan kolega laki-laki Anda untuk sekedar membuktikan diri? Para professional perempuan seringkali merasa kalau mereka harus memberikan lebih banyak bukti-bukti terkait kapabilitas mereka dan bekerja dua kali lebih keras agar dipandang memiliki kompetensi yang setara dengan pihak laki-laki.

Lebih parah lagi, kesuksesan perempuan seringkali dikaitkan dengan keberuntungan sementara laki-laki karena dianggap memiliki skill tinggi. Perempuan seringkali dipandang sebelah mata saat berbagi mengenai ide mereka, namun saat laki-laki yang menyampaikannya, hal ini tiba-tiba dianggap sebagai ide brilian.  

4. Kita selalu dilihat sebagai “terlalu feminin” atau “terlalu maskulin.”

Pernahkah Anda disebut sebagai “pemaksa” atau “bossy”? Jawabannya beda-beda, tergantung apakah Anda laki-laki atau perempuan. Laki-laki seringkali dipuji sebagai asertif, sementara perempuan dipandang sebagai agresif jika melakukan hal serupa.

Perempuan di industri teknologi terus berjuang di antara kategori “terlalu feminin” (yang membuat kita menjadi sulit dianggap serius) atau “terlalu maskulin” (yang membuat kita tampak kurang disukai). Kita semua tahu bahwa di masyarakat kontemporer, kita harus bisa disukai dan dihormati agar dapat terus meningkat dalam karir, dan menjadi perempuan berarti secara terus-menerus berjalan di atas seutas tali ini.

5. Tidak semua di antara kita yang sadar bahwa kitalah yang sesungguhnya menjadi penghambat diri sendiri!

Perempuan tak dapat mengacuhkan fakta bahwa kita juga seringkali menjadi sumber masalah yang berkontribusi di dalam ketaksetaraan gender dengan cara menahan diri kita dengan batasan-batasan yang hanya membebani diri sendiri.

Riset menunjukkan bahwa laki-laki mendaftar untuk sebuah pekerjaan atau promosi dengan hanya memenuhi 60% kualifikasi. Sementara itu perempuan mendaftar jika merasa memenuhi kualifikasi 100% karena ada rasa takut gagal atau ditolak. Perempuan menerima gaji lebih kecil dibandingkan laki-laki untuk jenis pekerjaan sejenis yang dilakukan di perusahaan yang sama sebesar 63% karena hanya 30% yang mau menegosiasikan paket kompensasi mereka.

Berdasarkan ranking perubahan saat ini, dibutuhkan waktu 250 tahun untuk bisa mendapatkan jumlah setara antara laki-laki dan perempuan dalam edisi khusus Fortune 500 CEOs. Inilah alsan utama kami untuk menyasar platform khusus bagi pempimpin perempuan untuk berbagi dan memberikan dukungan bagi perempuan lain untuk berkata "ya" untuk melakukan lebih banyak hal lewat LeanIn.Org, yang ditemukan oleh Facebook COO Sheryl Sandberg untuk pemberdayaan perempuan.

Kita saat ini semakin banyak mendengarkan topik pembicaraan mengenai bias dan stereotype. Kemudian perempuan dengan cepat membangun komunitas untuk berbagi dukungan, tools, dan saran untuk mengatasi berbagai masalah. Dengan tingginya kesadaran mengenai ketidaksetaraan gender dan seksisme dalam industri teknologi, tidak pernah ada waktu yang lebih tepat dari sekarang untuk menutup jurang pemisah gender dalam kepemimpinan.

###

[profile below]

Joelle Pang, pengusaha berkewarganegaraan Singapura merupakan advokat yang sangat memiliki perhatian di bidang pemberdayaan perempuan di tempat kerja. Dengan 10 tahun pengalaman di dunia tech startups baik e-commerce, big data, mobile dan on-demand space di bawah pengaruhnya, Joelle saat ini ditugaskan untuk melansir solusi inovatif di seluruh Asia dengan SPH Digital, dan kerjanya dimulai dengan FastJobs Asia, platform rekrutmen berbasi mobile pertama yang menghubungkan pekerja dan angkatan kerja non-eksekutif dengan cara penuh makna.

Perempuan di Industri Teknologi: 5 Hal Sangat Mengganggu yang Harus Dihadapi Setiap Perempuan di Industri Teknologi