Tips Manajemen Bisnis: 7 Pelajaran Penting Yang Saya Harap Sudah Pernah Saya Ketahui Sebelum Membuka Bar Sendiri

“Jika kamu memperlakukan bisnismu seperti sedang menggelar pesta, cepat-atau lambat pestanya akan bubar.” Nikhil Pawa, pemiliki bisnis berbasis di Bangkok berbagi mengenai tips manajemen bisnis yang dia harap telah dia ketahui sebelum membuka barnya sendiri.

Di usia 26 tahun, saya cukup beruntung telah memiliki dan menjalankan sendiri Apoteka, usaha blues bar yang berlokasi di tengah kota Bangkok. Saya sempat absen dari industri hospitality dalam kurun lima tahun terakhir, dan berpikir kalau untuk kembali ke bisnis ini akan menjadi tantangan yang luar biasa berat.

1. Jangan mabuk dengan barang yang Anda jual sendiri

Namun apapun yang terjadi, saya terima tantangan ini. Saya tak paham ternyata pintu yang terbuka ini akan membuka 101 pintu lainnya untuk saya. Seperti halnya melewati banyak kejadian dalam kehidupan ini, kita bertumbuh seiring dengan kemauan untuk belajar, dan berikut ini adalah 7 hal yang saya pelajari saat membuka dan menjalankan bar pertama saya.
Semakin cepat saya memahami hal ini, semakin cepat pula saya bertumbuh secara personal
dan profesional.

Sekalipun Anda adalah pemilik bar, bukan berarti Anda bisa minum semua suplai barang Anda semau-maunya. Jika Anda memperlakukan usaha seperti sedang menggelar pesta, cepat atau lambat pestanya akan bubar. Boleh saja Anda sering minum-minum dengan klien Anda untuk memperkuat relasi, namun tolong diingat bahwa Anda sedang menjalankan bisnis, bukan acara
amal. Silahkan hibur klien Anda namun jangan sirami mereka (dan dirimu) dengan minuman.

2. Kekuatanmu terletak pada seberapa kuat timmu

Kekuatan operasionalmu berada di tangan para anggota tim di saat dirimu tidak hadir. Kelola talenta mereka dan benahi kelemahan Anda. Ajari tim Anda untuk meraih kesempurnaan dan memenuhi standar kerja tinggi. Dengan cara memberikan jalan pada pertumbuhan mereka, berarti Anda telah membuka jalan bagi diri sendiri untuk ikut bertumbuh.

3. Mata bisa saja membohongi kita, tapi tidak dengan angka

Bertanyalah pada Akuntan Anda jika ingin mengetahui posisi bisnis, ia akan menginformasikan 90% hal yang perlu diketahui. Jika Anda terus melacak catatan keuangan Anda dan secara konsisten dan memastikan cek yang dikeluarkan tidak ditolak, para sponsor akan siap mendanai bisnis Anda 110%.

4. Anda ingin percaya setiap manusia pada dasarnya baik, tapi terkadang kenyataannya bukanlah demikian

Dalam bisnis semacam ini, pencurian adalah hal yang biasa kita temukan. Setiap orang memiliki niat, ada yang baik, ada yang buruk. Tak mungkin Anda akan langsung mengetahuinya dari sekedar menilai wajah mereka. Tindakan seorang individu mengungkapkan jutaan hal mengenai etika dan karakter mereka, melampaui kata-kata. Dengarkan dan perhatikan lebih
jauh, dan bicaralah lebih sedikit.

Kita sempat punya kasir yang bagus sekali kerjanya tahun ini, dia cekatan menghadapi angka, punya people skill yang sangat baik, dan memperlakukan pelanggan seperti anggota keluarga kerajaan. Tapi kemudian kami mengetahui kalau ternyata ia menjual minuman dari dalam bar, dan uangnya dikantongi sendiri. Ia berakting sebagai akuntan, namun memanipulasi angka,
transaksi, dan tagihan-tagihan.

Ingatlah bahwa jika saya tak mempercayai angka yang tersaji di depan saya maka saya tak akan pernah mendapatkan gambaran yang jelas. Segera setelah kami mengetahui hal ini, kontraknya langsung diputus, termasuk dua orang bartender lainnya yang turut bekerja sama dengannya. Namun bagaimana pun juga sayalah yang paling merasa bersalah karena tidak dengan segera menyadari hal ini di awal. Saya mencoba percaya bahwa tim saya mampu memberikan yang terbaik, dan hal ini ternyata menjadi kesalahan termahal yang harus saya tebus.

5. Setiap struktur membutuhkan garis otoritas

Seperti halnya setiap bisnis, pada akhirnya chain of command alias garis otoritas, memainkan peranan terbesar. Investor Anda tak perlu menunjukkan kuasa atas manajemen secara berlebihan dan memberikan perintah langsung untuk operasinya, karena hal ini justru akan mengacaukan struktur yang ada. Batasan-batasan perlu ditentukan, tanggung jawab harus didelegasikan dan dieksekusi. Mulailah memimpin dengan passion dan dengan tangan besi di awal. Tentukan target yang realistis dan lakukan eksekusinya melalui garis otoritas yang jelas, mulai dari investor, manajemen, hingga operasional.

6. Kesederhanaan seringkali diremehkan

Berpikirlah secara praktis saat Anda merencanakan jenis jasa apa yang akan disajikan. Seringkali kita berpikir kalau kompleksitas itu menjual. Janganlah berpura-pura menjadi seseorang yang memang bukan diri Anda.

Saya telah belajar (dan membayar harga mahal) mengenai hal ini. Menu kami awalnya terlalu mewah untuk sebuah blues bar. Kami menyajikan satu rak berisi daging domba, steak, filet mignon, dengan penataan piring ala-ala restoran fine dining. Segera setelah kami meluncurkan menu baru, kami menyadari bahwa sekalipun meninggalkan kesan mendalam di antara para
ahli penyicip wine, secara estetis semuanya terasa sangat palsu, terlalu kompleks, dan nggak sesuai dengan tempatnya.

7. Review buruk sekalipun tetaplah hal yang berharga

Ada yin dan yang berlaku di dalam bisnis, seperti halnya kehidupan. Di industri ini, satu-satunya cara belajar dari kekeliruan yang telah Anda lakukan adalah melalui mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh para pelanggan—terutama komplen yang masuk. Terlalu fokus pada review positif hanya akan menghambat perkembangan diri Anda sendiri.

Tips Manajemen Bisnis: 7 Pelajaran Penting Yang Saya Harap Sudah Pernah Saya Ketahui Sebelum Membuka Bar Sendiri