4 Kesalahan Finansial Paling Banyak Terjadi, Yang Akan Menghancurkan Pernikahan Anda

Apakah Anda dan pasangan merasa bersalah setelah membaca artikel ini?

Lia, 31, sedang mendaki tangga menuju puncak kepemimpinan di perusahaanya saat ia menikahi Daniel, suaminya. Namun segera setelah melahirkan buah hatinya, ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan menjadi ibu penuh-waktu. Tidak ada yang salah dengan keputusannya, namun penyesuaian ini ternyata butuh waktu.

“Aku nggak suka merasa tergantung sama uangnya Daniel,” jelas Lia. “Karena hal inilah, aku mulai merasa terganggu dengan perannya sebagai suami.”

Sekalipun perasaan seperti ini sangatlah normal, jika dibiarkan belanjut, hal ini bisa menimbulkan kehancuran bagi kehidupan pernikahan Lia dan Daniel. Uang merupakan  penyebab utama di balik stress dalam hubungan, dan itulah mengapa pasangan harus berhati-hati dengan potensi ranjau finansial dalam hubungan mereka.

Berikut merupakan beberapa kekeliruan finansial yang dapat menghancurkan rumah tangga Anda, berdasarkan komentar para Ahli.

1.Membiarkan uang memicu permainan kekuasaan

Apa yang dialami oleh Lia merupakan perjuangan kekuasaan dalam rumah tangganya. Menurut terapis pernikahan dan keluarga Neil Rosenthal, perasaan beracun seperti ini dialami pihak yang merasa memiliki kekurangan dalam pernikahan.

“Dinamikanya seperti ini: pihak yang menghasilkan lebih banyak uang dianggap lebih berkuasa,” tulis Rosenthal. “Pihak yang memiliki uang lebih sedikit biasanya merasa kurang berkuasa dan kurang dihargai.”

Untuk menghindarkan agar uang terlibat dan memicu perjuangan kuasa dalam pernikahan Anda, Rosenthal merekomendasikan agar pasangan saling membicarakan mengenai keuangan secara rutin dan terbuka. Keduanya punya peran menentukan dalam perencanaan keuangan rumah tangga, serta untuk mengkomunikasikan antara keinginan dan kebutuhan.

Carla P. juga mengalami perjuangan menjalani kehidupan yang secara finansial tergantung pada suaminya, namun karena pihak suami sepenuhnya mempercayakan pembelanjaan keuangan padanya, perjuangan kekuasaan tidak mengambil alih pernikahan mereka. “Sangat penting bagi pasangan agar tidak membiarkan pihak lain merasa inferior semata-mata karena penghasilannya lebih sedikit atau bahkan tidak menghasilkan sama sekali,” katanya.

2.Melibatkan hutang ke dalam pernikahan

Hutang dalam pernikahan bagaikan peribahasa akibat nila setitk rusak susu sebelanga. Karena itu, cobalah dengan sekeras tenaga untuk meminimalisir, atau sama sekali menghapus hutang-hutang sebelum menikah. Satu studi yang dilakukan oleh Utah State University melalui survei yang dilakukan terhadap 1,010 pasangan baru menikah yang samplenya diambil secara acak menemukan bahwa hutang konsumen bisa membahayakan pernikahan Anda.

“Membawa hutang ke dalam pernikahan dilihat sebagai permasalahan paling pelik di antara banyaknya rintangan yang harus dihadapi selama bulan-bulan awal pernikahan,” papar satu studi. Para periset menyimpulkan bahwa pasangan yang memulai hidup berumah tangga dengan jumlah tagihan hutang yang besar akan menghadapi lebih banyak rintangan dalam membangun pondasi pernikahan yang kuat melewati bulan-bulan awal pernikahan.  

Jika Anda terlilit hutang, pastikan bahwa Anda punya rencana untuk melunasinya sehingga hal ini tak akan membebani hubungan ke depannya.

3.Materialisme, atau memberi penghargaan lebih besar terhadap barang dibandingkan orang

Jika Anda dan pasangan memberatkan penilaian berlebih terhadap uang, maka hal ini bisa mengisyaratkan ada masalah dalam hubungan Anda.

Sebuah studi di tahun 2011 mengemukakan bahwa pasangan yang menyatakan bahwa uang bukanlah hal penting memiliki skor 10-15% lebih baik dalam hal kestabilan pernikahan dan kualitas hubungan dibandingkan pasangan yang keduanya merupakan materialistik. Lebih jauh lagi, hubungan yang menggabungkan dua orang matre akan memiliki dampak lebih buruk dibandingkan pasangan yang memiliki satu pihak dengan kecenderungan materialistik.

“Kondisi dimana kedua pasangan dalam pernikahan bersifat materialistik mendapatkan nilai lebih buruk dalam setiap kategori yang kami ukur,” ujar Jason Carroll, lead author dari studi ini, dan menambahkan bahwa pasangan seperti ini memiliki pola “mengikis komunikasi, memiliki strategi resolusi konflik sangat buruk, dan tingkat responsivitas sangat rendah satu sama lainnya.”

4. Kegagalan mengenali nilai-nilai yang berbeda satu sama lain

Tidak semua orang menghargai uang seperti Anda. Beberapa pihak melihat uang bagaikan selimut yang melindungi mereka, sementara pihak lain melihatnya sebagai cara untuk menikmati hidup. Saat pasangan mulai menghadapi benturan nilai uang, maka hal ini akan mengarah pada ketidakpersetujuan dan konflik.

Berdasarkan beberapa penelitian yang dihasilkan Utah State University, pasangan menikah mestinya mengkomunikasikan dan menerima perbedaan satu sama lain dan belajr saling memahami:

“Memahami bagaimana pandangan dan penilaian satu sama lain terhadap uang akan mengurangi konflik dan membuka percakapan komunikasi. Uang dalam hubungan pernikahan merupakan satu isu yang harus di hadapi dengan gagah berani dari depan dan bukan disembunyikan dalam komunikasi dan konflik.”